Aktivis NTB Jakarta Desak Pemerintah Selidiki Penyebab Kebakaran dan Segera Rehabilitasi Desa Sade

Jakarta – Kebakaran besar yang melanda Desa Adat Sade di Lombok Tengah pada malam Sabtu, 22 Agustus 2026, telah memunculkan dampak yang sangat signifikan bagi kebudayaan Sasak dan warisan budaya Indonesia. Api yang berkobar dengan cepat menghancurkan pemukiman tradisional yang padat penduduk, menghanguskan antara 75 hingga 129 unit rumah adat (bale) serta 69 galeri kerajinan (art shop). Sekitar 320 warga kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian mereka, sementara naskah lontar kuno yang memiliki nilai sejarah tinggi juga ikut terbakar. Kerugian material diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah, menimbulkan duka mendalam bagi masyarakat setempat.
Kehilangan yang Mendalam bagi Kebudayaan
Kehilangan yang dialami oleh Desa Sade bukan hanya sekadar keruntuhan fisik bangunan, melainkan ancaman nyata terhadap kelestarian kebudayaan Nusantara yang telah diwariskan secara turun-temurun selama 15 generasi dan berusia sekitar 600 tahun. Kebakaran ini mencerminkan fragilitas warisan budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan.
Desakan untuk Tindakan Segera
Oleh karena itu, dalam situasi genting ini, terdapat dua langkah krusial yang harus segera diambil oleh pemerintah:
1. Pentingnya Transparansi dalam Investigasi
Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran belum terungkap sepenuhnya. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengindikasikan kemungkinan masalah pada instalasi listrik atau korsleting, namun masyarakat membutuhkan kejelasan hukum dan teknis. Kami mendesak pihak kepolisian, melalui Inafis Polda NTB dan Polres Lombok Tengah, untuk melakukan penyelidikan secara cepat, transparan, dan akurat. Ini menjadi sangat penting mengingat kesaksian warga bahwa kebakaran ini adalah yang ketujuh kalinya melanda Sade, dan peristiwa kali ini paling menghancurkan. Tanpa pemahaman yang jelas tentang penyebabnya, langkah mitigasi untuk melindungi warisan budaya di masa depan tidak akan mungkin dilakukan.
2. Rekonstruksi yang Mengedepankan Keaslian
Desa Sade merupakan tempat yang melestarikan tradisi leluhur Suku Sasak. Oleh karena itu, membangun kembali desa ini bukan hanya sekadar proyek infrastruktur untuk menyediakan tempat tinggal sementara. Proses rekonstruksi harus berfokus pada restorasi budaya yang autentik dan menghormati nilai-nilai leluhur.
Pemerintah perlu mendukung aspirasi warga Sade, sebagaimana disampaikan oleh Ketua Pokdarwis Ardinata Sanah, untuk mengembalikan karakter arsitektur tradisional Sasak yang asli. Sebelum kebakaran terjadi, banyak bangunan di desa ini terancam oleh penggunaan material modern seperti semen dan kaca. Momentum rekonstruksi ini harus dimanfaatkan untuk mengembalikan desain asli Sade, menggunakan bahan-bahan alami seperti tiang kayu, dinding anyaman bambu (bedek), atap ilalang, dan lantai tanah liat yang dicampur kotoran kerbau. Ini selaras dengan komitmen Dinas Kebudayaan NTB yang menegaskan pentingnya mempertahankan kawasan Sade sebagai cagar budaya tradisional Suku Sasak.
Tantangan Mitigasi di Masa Depan
Ke depan, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana memadukan tradisi dengan aspek keamanan. Komitmen untuk mempertahankan penggunaan bahan tradisional yang rentan terbakar juga mengharuskan adanya evaluasi keselamatan yang menyeluruh. Kepadatan bangunan dan dominasi material alami menjadi faktor pemicu cepatnya penyebaran api. Oleh karena itu, pemerintah daerah, masyarakat adat, dan para ahli, termasuk komunitas Lombok Heritage and Science Society, perlu berkolaborasi untuk mengevaluasi tata ruang yang ada.
Kita perlu merancang sistem perlindungan kebakaran mandiri, jalur evakuasi, akses darurat untuk kendaraan pemadam, serta pengamanan instalasi listrik yang dapat diandalkan tanpa mengorbankan estetika dan nilai-nilai adat setempat.
Pentingnya Tindakan Pemerintah Pasca Bencana
Desa Adat Sade adalah situs budaya legendaris yang menjadi kebanggaan pariwisata Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah pusat, Pemprov NTB, dan Pemkab Lombok Tengah tidak boleh menunda penanganan jangka panjang setelah musibah ini. Pemerintah harus segera merilis hasil penyelidikan resmi mengenai penyebab kebakaran tersebut dan secara bersamaan mengawal proses restorasi fisik desa agar selaras dengan arsitektur aslinya. Dengan langkah-langkah ini, kita bisa mengembalikan kehidupan dan martabat bale adat yang bersejarah di tanah Sade, serta melestarikan warisan budaya yang berharga untuk generasi mendatang.


