Tradisi

Wae Rebo Manggarai Sebuah Kampung Diatas Awan

Wae Rebo merupakan sebuah kampung tradisional disebuah dusun terpencil di desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai Propinsi Nusa Tenggara Timur. Terletak di ketinggian 1000 diatas permukaan laut, dekelilingi bukit-bukit dan hutan-hutan asri, kampung ini sering diselimuti kabut jika dilihat dari kejauhan.  Pantaslah jika disebut kampung di atas awan.

Untuk mencapai Wae Rebo, harus melintasi kawasan hutan yang masih asli. Hutan rimbun disertai dengan satwanya yang lengkap. Ketika anda memasuki hutan, akan disambut dengan kicauan burung Pacycepal yang seolah turut mengiringi langkah anda.

Rumah adat Wae Rebo ini dikenal dengan sebutan ‘ Mbaru Niang ‘ (rumah bundar berbentuk kerucut ). Mbaru niang terdiri dari 5 tingkatan. Masing-masing tingkatan memiliki fungsinya sendiri. Tingkat pertama adalah ‘Lutur‘ yang berarti tenda. Tingkatan ini digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat. Tingkat kedua adalah ‘Lobo’ yakni loteng yang berfungsi menyimpan bahan makanan dan barang – barang lainnya. Tingkat ketiga adalah ‘lentar’ yang digunakan untuk menyimpan benih – benih seperti jagung, padi dan kacang – kacangan, dan lain-lain. Tingkat keempat ‘Lempa Rae’ sebagai tempat stok makanan cadangan yang digunakan ketika terjadi gagal panen atau musim kemarau berkepanjangan. Tingkat kelima adalah ‘Hekang Kode ‘ yang digunakan untuk menyimpan langkar, yakni semacam anyaman dari bambu berbentuk persegi guna menyimpan sesajian untuk dipersembahkan pada leluhur.

Baca  Bedhaya Ketawang Tarian Langit Berusia Ribuan Tahun

Menuju Wae Rebo melalui Ruteng

Dari Ruteng, perjalanan dengan kendaraan selama 4 jam yang berkelok sehingga penumpang tak henti bergoyang. Sampailah di sebuah desa pesisir bernama Dintor. Jalan terus dilanjutkan menuju tanjakan ke pedalaman pulau menempuh pematang sawah dan jalan setapak di Sebu sebelum sampai di Denge. Dari Denge langkah terus dihentakkan melalui hutan kecil, melalui Sungai Wae Lomba. Setelah mengatur kerja paru-paru di sepanjang jalan setapak, dari Ponto Nao, terlihat pusat Wae Rebo, sebuah dusun yang mengepul asap dari kerucut-kerucut aneh yang berkumpul di sebuah lapang hijau. Itulah sisa-sia mbaru niang yang hampir punah.

Wae Rebo merupakan negeri diatas awan tempat dimana masyarakat hidup harmoni dengan alam dan gemanya ditiupkan keseluruh penjuru daerahnya. Masyarakat hidup rukun dan harmonis meskipun dengan kondisi sederhana. Wae Rebo menjadi salah satu tempat untuk menjaga dan melestarikan salah satu kekayaan bumi nusantara ini.

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker