Teknologi Kain Katun Cina Dari Jawa [Info Penting]

Teknologi Kain Katun Cina Dari Jawa | Candi.web.idTeknologi Kain Katun Cina Dari Jawa menunjukkan Nusantara atau Jawa di masa lalu sudah sangat maju dibanding peradaban lain di dunia. Ungkapan belajar dari Cina tidak cocok untuk masyarakat Nusantara di masa lalu. Bukan hanya teknologi kain katun yang sudah sangat maju tapi teknologi pembuatan perhiasan emas juga sudah sangat maju pada saat itu.

Hingga tahun 500 M, masyarakat Cina tidak mengenal tehnologi pembuatan kain katun. Mereka juga tidak memiliki pengetahuan untuk membudidayakan kapas. Kain katun adalah jenis kain rajut (knitting) yang berbahan dasar serat kapas.

Dalam catatan W.P. Groeneveldt, katun (kapas) merupakan tanaman yang diperkenalkan ke Tiongkok. Dalam Sejarah Dinasti Liang, Buku 54, hlm.1, ditemukan catatan berikut: “Gu-ba adalah nama sebuah pohon yang memiliki bunga. Ketika mekar, bunga pohon ini akan menyerupai pantat angsa. Penduduk Pribumi mengambil seratnya dan memilinnya. Hasilnya digunakan untuk menenun sejenis kain seputih linen. Mereka juga mewarnai benang dengan berbagai warna dan menenun kain bermotif”, (W.P. Groeneveldt, 2009: 199).

Kain Linen

Dari catatan W.P. Groeneveldt tersebut, dapat dikatakan jika masyarakat Cina kala itu hanya mengenal kain linen. Kain linen adalah kain yang terbuat dari serat alami. Serat linen terbuat dari serat tumbuhan rami. Menurut sejarah, kain dari serat linen ini telah ada sejak awal manusia membuat kain. Serat linen juga merupakan serat kain tertua, dibuat setidaknya 6.000 tahun yang lalu di Mesir Kuno dan Mesopotamia.

Kain linen memiliki ciri-ciri terlihat kaku dan cenderung kain tebal. Meskipun terlihat kaku, jika digunakan kain linen ini terasa halus. Namun demikian, kain linen tidak memiliki sifat elastis sehingga mesti direntangkan, ia tetap saja tidak akan melar. Kain linen sering digunakan sebagai pakaian, kain seprai, serbet, tirai, taplak meja, handuk, kertas, perisai, dan lain sebagainya.

Bahan pakaian yang terbuat dari bahan linen akan cepat rusak jika perawatannya keliru. Hal ini karena serat kain linen mudah rusak. Kain linen juga akan cepat rusak jika dididihkan, mencuci dengan pemutih dan bahan oksidasi lainnya.

Namun nilai lebih kain linen adalah akan semakin lebut jika kain sering dicuci. Hanya saja perlu diingat, kain ini tidak boleh dilipat secara kuat dan berkali-kali pada tempat yang sama, karena dapat mengakibatkan benang putus. Kasus ini banyak ditemukan pada lipatan kerah.

Ge-ba Dan Gu-ba Istilah Cina Untuk Kapas

Menurut W.P. Groeneveldt kembali, sebelum tanaman ini diperkenalkan di Tiongkok, tanaman ini disebut Ge-ba atau Gu-ba, sebuah nama lokal yang berasal dari bahasa Melayu kapas atau kapeh, (W.P. Groeneveldt, 2009: 199). Informasi W.P. Groeneveldt tersebut tentu sangat menarik. Karena ternyata kapas pada masa lalu sekalipun dianggapnya berasal dari bahasa Melayu, namun ternyata kapas bukan diproduksi di wilayah Melayu. Menurut Anthony Reid, penghasil kapas dan pengekspor kapas pada masa lalu adalah Jawa Timur, Bali, Sumbawa, Buton, dan sudut tenggara Sulawesi Selatan, Birma, serta Kamboja, (Anthony Reid, 1992: 104).

Mengingat dalam Sejarah Dinasti Liang (502-557) kisah hubungan yang terjadi dikisahkan antara Cina dengan Kandali, Poli (Sumatera) dan Cina dengan Lang-ga (Jawa), maka dapat dikatakan Jawa-lah yang memperkenalkan katun ke Cina dan bukan Sumatera. Hal ini karena kata kapas bukan hanya sebagai bahasa Melayu.

Teknologi Kain Katun

Sangat menarik kembali, sekali pun Cina telah memiliki hubungan dengan India dengan salah satunya ada catatan perjalanan Faxian (414 M), namun ternyata hubungan tersebut tidak memberikan pengetahuan akan adanya kain katun. Namun pengetahuan itu datangnya dari Jawa. Hal ini tentu memberikan informasi jika sebenarnya tehnologi pembuatan kain katun sebenarnya dari Jawa. Bukan dari India. Dari sini maka dapat dikatakan jika pengetahuan tehnologi kain katun adalah dari Jawa untuk dunia.

Penulis: Irawan Djoko Nugroho
Sumber : Suluh Bakti Nuswantara

Sumber:
1. Daud Aris Tanudirdjo Jaringan Pelayaran dan Perdagangan Penutur Austronesia. Makalah disampaikan dalam Diskusi Pengaruh Peradaban Nusantara di Dunia, Sabtu 23 Oktober 2010 di Hotel Sultan Jakarta, diselenggarakan oleh Suluh Nuswantara Bakti.
2. Groeneveldt, W.P, Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Jakarta. Komunitas Bambu, 2009.
3. Irawan Djoko Nugroho, Majapahit Peradaban Maritim, Jakarta: Yayasan Suluh Nuswantara Bakti, 2011.
4. Reid, Anthony , Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680: Tanah Dibawah Angin. Jilid 1. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1992.

Artikel Menarik Lainnya