Candi

Candi Cetho dan Misteri Stargate

Berasal Dari Peradaban Ribuan Tahun Sebelum Masehi

Candi Cetho letaknya di Dukuh Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, pada ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut.

Konon nama Cetho, yang dalam bahasa Jawa berarti jelas, digunakan sebagai nama dusun tempat candi ini berada karena dari Dusun Cetho orang dapat dengan jelas ke berbagai arah. Ke arah utara terlihat pemandangan Karanganyar dan Kota Solo dengan latar belakang Gunung Merbabu dan Merapi serta, lebih jauh lagi, puncak Gunung Sumbing. Ke arah barat dan timur terlihat bukit-bukit hijau membentang, sedangkan ke arah selatan terlihat punggung dan anak-anak Gunung Lawu.

Proses Penemuan & Pemugaran

Kompleks Candi Cetho pertama kali ditemukan oleh Van der Vlis pada tahun 1842. Selanjutnya bangunan bersejarah itu banyak mendapat perhatian para ahli purbakala seperti W.F. Sutterheim, K.C. Crucq, N.j. Krom, A.J. Bernet Kempers, dan Riboet Darmosoetopo. Pada tahun 1928 Dinas Purbakala mengadakan penelitian melalui penggalian untuk mencari bahan-bahan rekonstruksi yang lebih lengkap. Bangunan yang ada saat ini, termasuk bangunan-bangunan pendapa dari kayu, merupakan hasil pemugaran yang dilakukan pada akhir tahun 1970-an. Sangat disayangkan bahwa pemugaran atau lebih tepatnya disebut pembangunan kembali tersebut dilakukan tanpa memperhatikan aspek arkeologis, sehingga keaslian bentuknya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Bentuk Bangunan Candi

Candi Cetho merupakan kelompok bangunan yang terdiri atas 11 teras berundak yang membentang arah timur-barat.

Teras Pertama

Teras pertama terletak di sisi timur, makin ke barat makin tinggi. Masing-masing teras dihubungkan oleh sebuah pintu dan jalan setapak yang seolah-olah membelah halaman teras menjadi dua sisi. Di sisi timur teras paling bawah terdapat sebuah gapura yang merupakan pintu gerbang kompleks Candi Cetho. Di depan gapura terdapat sebuah arca batu yang disebut arca Nyai Gemang Arum.

Di sisi selatan teras pertama terdapat bangunan tanpa dinding yang berdiri di atas fondasi setinggi kurang lebih 2 m. Di dalam bangunan terdapat susunan batu yang tampaknya sering digunakan untuk meletakkan sesajian. Di ujung barat jalan setapak yang melintasi halaman teras pertama terdapat gapura batu dengan tangga batu. Tangga menuju teras berikutnya ini diapit oleh sepasang arca Nyai Agni. Hanya satu dari kedua arca ini yang masih agak utuh, yaitu masih mempunyai kepala.

Teras Kedua

Di halaman teras kedua terdapat susunan batu yang terhampar di halaman, membentuk gambar seekor garuda terbang dengan sayap membentang. Di punggung garuda terdapat susunan batu yang menggambarkan seekor kura-kura. Tepat di atas kepala garuda terdapat susunan batu berbentuk matahari bersinar, segitiga sama kaki dan Kalacakra (kelamin laki-laki). Di ujung masing-masing sayap garuda terdapat dua bentuk matahari lain.

Baca  Candi Panataran

Garuda adalah burung kendaraan Wisnu yang yang melambangkan dunia atas, sedangkan kura-kura yang merupakan titisan Wisnu merupakan simbol dunia bawah. Kura-kura dianggap binatang sakti yang mampu menyelami samudera untuk mendapatkan air kehidupan (tirta amerta). Adanya kalacakra di halaman ini yang menyebabkan Candi Cetho disebut sebagai candi ‘lanang’ (lelaki).

Matahari bersinar 7 (tujuh) melambangkan Sang Surya yang diyakini sebagai sumber kekuatan kehidupan. Segitiga sama kaki melambangkan pedoman bagi dunia yang sedang tenggelam kedalam lautan kegelapan. Di tengah segi tiga sama kaki terdapat lingkaran yang memuat tiga ekor katak, masing-masing menghadap ke sudut yang berbeda.

Dalam setiap segitiga terdapat lukisan seekor kadal. Pada garis berat yang membagi sisi timur terdapat bentuk belut bermahkota dengan gambar ketam di sisi selatan dan mimi (sejenis binatang laut) di sisi utara. Keseluruhan bentuk tersebut merupakan gambaran harapan akan kesuburan, baik kesuburan tanah maupun manusia. Segitiga dengan bentuk kelamin laki-laki di puncaknya melambangkan kesatuan wanita dan pria, dua makhluk yang berlawanan sifatnya namun tidak dapat dipisahkan satu sama lain sebagai perlambang jagad kecil (mikrokosmos) dalam diri manusia. Di sisi barat teras kedua, masing-masing di kiri dan kanan tangga menuju teras berikutnya, terlihat dua buah ruangan yang hanya tinggal fondasinya saja. Tangga menuju teras berikutnya merupakan susunan batu andesit yang susunannya tidak rapi. Di kiri dan kanan tangga terdapat reruntuhan batu yang tidak jelas bentuk aslinya.

Teras Ketiga

Teras ketiga merupakan halaman yang tidak terlalu luas. Seperti yang terdapat di teras sebelumnya, di sisi barat teras ini juga terdapat sepasang ruangan yang mengapit jalan menuju tangga ke teras yang lebih atas. Di dalam ruangan terdapat susunan batu membentuk segi empat membujur dari utara ke selatan. Pada dinding susunan batu tampak relief bergambar orang dan binatang.

Tangga menuju teras berikutnya terbuat dari batu andesit yang sangat rapi susunannya, dibuat bertingkat dengan jeda (landing) yang cukup lebar di setiap tingkat. Tebing di kira dan kanan tangga disangga oleh turap batu bersusun. Tidak didapat informasi apakah tangga ini merupakan hasil pemugaran yang pernah dilakukan sebelumnya atau merupakan tangga yang asli.

Teras Keempat

Di sisi dalam (barat) teras keempat terdapat sepasang arca Bima yang menjaga sebuah tangga batu menuju teras kelima.

Teras Kelima

Teras kelima merupakan halaman dengan sepasang bangunan beratap, yang disebut pendapa luar. Bangunan tanpa dinding tersebut mengapit jalan menuju tangga ke teras ke enam.

Teras Keenam

Di sisi barat teras ke enam, di depan kaki tangga, terdapat sebuah arca Kalacakra dan sepasang arca Ganesha. Tangga menuju teras ketujuh ini juga sangat rapi susunannya dan dibuat bertingkat 3. Tebing di kiri kanan tangga diperkuat dengan turap batu. Di puncak tangga terdapat gapura yang merupakan pintu masuk ke teras ketujuh, yang merupakan halaman yang dikelilingi oleh dinding batu.

Baca  Candi Ratu Boko

Teras Ketujuh

Mirip dengan pendapa luar, di teras ini juga terdapat sepasang pendapa beratap tanpa dinding. Teras ini disebut pendapa dalam. Di sisi barat pendapa dalam terdapat tangga menuju di teras berikutnya.

Teras Kedelapan

Teras kedelapan merupakan sebuah ruangan yang digunakan untuk bersembahyang. Di depan pintu ruangan terdapat dua buah arca batu dengan tulisan Jawa yang menunjukkan tahun dibangunnya Candi Cetho. Di sisi barat, di belakang ruangan, terdapat tangga menuju teras kesembilan.

Teras Kesembilan

Di kiri dan kanan sisi barat teras kesembilan terdapat ruangan yang menghadap ke timur. Kedua ruangan tersebut berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda kuno. Di sisi timur, berseberangan dengan masing-masing ruang penyimpanan tersebut terdapat dua bangunan. Bangunan di sisi utara berisi arca Sabdapalon dan yang di sisi selatan berisi arca Nayagenggong. Keduanya merupakan tokoh punakawan (pengasuh sekaligus penasehat kerajaan) pada masa itu.

Sisi barat teras kesembilan dibatasi oleh dinding batu yang berfungsi sebagai gapura masuk ke sebuah lorong tangga batu menuju ke sebuah ruangan di teras kesepuluh.

Teras kesepuluh

Di masing-masing sisi ruang ini terdapat tiga buah bangunan kayu yang saling berhadapan. Dalam masing-masing bangunan terdapat sebuah arca. Salah satu di antara deretan arca yang terletak di deretan utara adalah arca Prabu Brawijaya. Di deretan selatan, lagi-lagi, terdapat arca Kalacakra. Ujung barat deretan selatan merupakan tempat penyimpanan pusaka Empu Supa. Empu Supa adalah seorang empu (pembuat senjata pusaka) yang terkenal dan dihormati pada masa hidupnya. Sisi barat teras kesepuluh dibatasi oleh dinding batu yang berfungsi sebagai gapura masuk ke sebuah lorong tangga batu menuju ke teras kesebelas.

Teras Kesebelas

Di puncak lorong terdapat sebuah dinding batu setinggi sekitar 1,60 meter yang menyekat tangga dengan ruang utama, berupa bangunan tanpa atap, dikelilingi dinding batu setinggi hampir 2 m, dengan luas sekitar 5 m2. Ruang utama ini letaknya lebih tinggi dari semua ruang lain, sehingga dari tempat ini dapat dilihat dengan jelas ruang-ruang di bawahnya.

Bangunan utama Candi Cetho terletak di halaman paling belakang dan di teras yang paling tinggi serta menghadap ke puncak gunung. Hal ini mencerminkan keyakinan bahwa kekeramatan candi merupakan bagian dari alam di sekitarnya. Arsitektur Candi Cetho didasarkan pada konsep bahwa dewa-dewa bukan bersemayam di langit, melainkan di puncak gunung. Gunung adalah sumber enerji yang nampak maupun tidak nampak.

Bahwa bangunan utama candi ini justru terletak di halaman paling atas dan paling bagian belakang, berbeda dengan konsep candi pada umumnya yang menempatkan ruang bagian depan sebagi pusat dari seluruh kegiatan, mirip dengan yang didapati di Candi Panataran, Blitar.

Jauh di barat kompleks candi ini, di sebuah dataran yang agak tinggi, terdapat ‘sendang’ atau kolam tempat mandi para selir raja beserta dayang-dayangnya. Sayang sekali bahwa sendang ini tak terawat, berbeda dengan candi yang selalu dibersihkan setidaknya setahun sekali. (Referensi : Candi.pnri.go.id)

Penafsiran Ulang

Seperti halnya Candi Panataran yang menggambarkan ekspansi ke benua Amerika, candi cetho juga perlu di kaji ulang tahun pembuatannya. Dalam sejarah resmi yang beredar , Candi Cetho dibangun dalam masa akhir Majapahit, tapi menurut tim Turangga Seta, usianya diperkirakan jauh lebih tua.  Candi-candi yang dibuat di era Majaphit rata-rata di buat dari batu bata merah dengan ukiran yang lebih detail, sementara Candi Cetho di bangun dengan batu kali dengan ukiran yang lebih sederhana.

Candi Cetho tidak mirip candi-candi yang lain yang ada di Indonesia, tapi justru mirip dengan candi -candi yang ada di peradaban Inca, Maya di Amerika Latin. Dan candi ini diperkirakan berasal dari sekitar 6000 tahun yang lalu.

Patung-patung di  Candi Cetho juga menunjukkan era yang jauh lebih tua dari Majapahit, dan di beberapa patung tidak menggambarkan orang jawa tapi justru mirip dengan orang Sumeria.

 

Baca  Candi Sari
Gb. Turangga Seta

Candi Cetho Sebagai Stargate

Stargate atau gerbang bintang adalah sebuah alat, mekanisme atau portal untuk melakukan perjalanan ruang angkasa yang sangat jauh sehingga keterbatasan ruang dan waktu dapat diatasi. Misalnya perjalanan ke rasi bintang Pleades tidak mungkin dilakukan dengan pesawat ruang angkasa tapi harus menggunakan stargate.

Dalam tradisi kuno di nusantara diyakini bahwa para leluhur di masa lalu sudah mengenal alat atau mekanisme untuk mengeksplorasi ruang angkasa yang sangat jauh sekali. Kisah ini ada di seluruh dunia dan juga dari sabang hingga merauke.

Candi Cetho terletak di Gunung Lawu yang nama aslinya adalah Gunung Mahendra. Gunung Mahendra ini dalam catatan kuno adalah salah kaki kahyangan di bumi ini. Kaki Kahyangan dalam peradaban modern inilah yang dikenal sebagai stargate atau portal antar dimensi atau portal yang mampu menembus dimensi ruang waktu.

Candi Cetho

Dibawah ini saya mengutip catatan dari Dedy Indarto yang membahas Candi Cetho kaitannya dengan stargate.

Kali ini ada titik centrum utama yang ditandai oleh leluhur Majapahit di Candi Cetho Lereng Gunung Lawu. Sebenarnya bukan punden asli temuan Majapahit, tetapi merupakan punden purba yang direnovasi oleh beberapa dinasti kerajaan kuno dan terakhir disempurnakan oleh Majapahit.

Ada pictogram GARUDA yang tergelar dihalaman teras punden candi ini, dan bila anda duduk tepat dipunggung Garuda maka itu mengarahkan ke 3 gapura yang bila malam hari tepat segaris dengan rasi bintang ORION.

Bebarapa peradaban purba dan kuno diseluruh dunia memuja ORION sebagai bagian STAR GATE yang mampu menghubungkan pada kehidupan multidimensional. Maka tinggal tergantung anda, apakah punya cukup energi guna melakukan QUANTUM LEAP melewati STAR GATE di Cetho ini. Karena rupanya leluhur kita sudah punya perangkat dan teknologi spiritualnya.

Kumpulan Gambar Candi Cetho

Tags

Related Articles

One Comment

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker